28 Berpegang Teguh kepada Sunnah Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin

28. Berpegang Teguh kepada Sunnah Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin

 

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدَّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

[رَوَاه داود والترمذي وقال: حديث حسن صحيح]

 

Abu Najih, Al ‘Irbad bin Sariyah ra. ia berkata: “Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. Kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat” Rasulullah bersabda, “Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya siapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.”

[HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih]

 

Mutiara Hadits:

  1. Bekas yang mendalam dari nasehat Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam dalam jiwa para shahabat. Hal tersebut merupakan tauladan bagi kita semua
  2. Taqwa merupakan yang paling penting untuk disampaikan seorang muslim kepada muslim lainnya, kemudian mendengar dan ta’at kepada pemerintah selama tidak terdapat di dalamnya maksiat
  3. Keharusan untuk berpegang teguh terhadap sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin, karena di dalamnya terdapat kemenangan dan kesuksesan, khususnya tatkala banyak terjadi perbedaan dan perpecahan
  4. Hadits ini menunjukkan tentang sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena di dalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat
  5. Larangan untuk melakukan hal yang baru dalam agama (bid’ah) yang tidak memiliki landasan dalam agama

 

Penjelasan:

Pada sebagian sanad diriwayatkan dengan kalimat “Sesungguhnya ini adalah nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal). Lalu apa yang akan engkau pesankan kepada kami?” Beliau bersabda, “Aku tinggalkan kamu dalam keadaan terang benderang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang menyimpang melainkan ia pasti binasa”

Perkataan, “nasehat yang menggetarkan hati” maksudnya adalah mengena kepada diri kita, membekas dihati kita dan menjadikan orang takut.

Sabda Rasulullah, “Aku memberi wasiat kepadamu supaya tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan mentaati” maksudnya kepada para pemegang kekuasaan. Sabda Beliau, “walaupun yang memerintah kamu seorang budak”, pada sebagian riwayat disebutkan budak habsyi.

Sebagian Ulama berkata, “Seorang budak tidak dapat menjadi penguasa” kalimat tersebut sekedar perumpamaan, sekalipun hal itu tidak menjadi kenyataan, seperti halnya sabda Rasulullah, “Siapa membangun masjid sekalipun seperti sangkar burung karena Allah, niscaya Allah akan membangukan untuknya sebuah rumah di surga”. Sudah tentu sangkar burung tidak dapat menjadi masjid, tetapi kalimat perumpaan seperti itu biasa dipakai.

Mungkin sekali Rasulullah memberitahukan bahwa akan terjadinya kerusakan sehingga sesuatu urusan dipegang orang yang bukan ahlinya, yang akibatnya seorang budak bisa menjadi penguasa. Jika hal itu terjadi, maka dengarlah dan taatilah untuk menghindari mudharat yang lebih besar serta bersabar menerima kekuasaan dari orang yang tidak dibenarkan memegang kekuasaan, supaya tidak menimbulkan fitnah yang lebih besar.

Sabda Rasulullah, “Sungguh, orang yang masih hidup diantaramu nanti akan melihat banyak perselisihan” ini termasuk salah satu mukjizat beliau yang mengabarkan kepada para sahabatnya akan terjadinya perselisihan dan meluasnya kemungkaran sepeninggal beliau. Beliau telah mengetahui hal itu secara rinci, tetapi beliau tidak menceritakan hal itu secara rinci kepada setiap orang, namun hanya menjelaskan secara global. Dalam beberapa hadits ahad disebutkan beliau menerangkan hal semacam itu kepada Hudzaifah dan Abu Hurairah yang menunjukkan bahwa kedua orang itu memiliki posisi dan tempat yang penting disisi Rasulullah.

Sabda Beliau, “Maka wajib atas kamu memegang teguh sunnahku” sunnah ialah jalan lurus yang berjalan pada aturan-aturan tertentu, yaitu jalan yang jelas. Sunnah Rasulullah adalah pedoman hidup yang beliau contohkan selama beliau hidup.

Sabda Beliau, “dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk” maksudnya mereka yang senantiasa diberi petunjuk. Mereka itu ada 4 orang, sebagaimana ijma’ para ulama, yaitu Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan Ali ra. Rasulullah menyuruh kita teguh mengikuti sunnah Khulafaur Rasyidin karena dua perkara:

Pertama, bagi yang tidak mampu berpikir cukup dengan mengikuti mereka.

Kedua, menjadikan pendapat mereka menjadi pilihan utama bila terjadi perselisihan pendapat diantara para shahabat.

Sabdanya “Jauhilah olehmu perkara-perkara yang baru“. Ketahuilah bahwa perkara yang baru itu ada dua macam:

Pertama, perkara baru yang tidak punya dasar syari’at, hal semacam ini bathil lagi tercela. Inilah yang disebut bid’ah.

Kedua, perkara baru yang dilakukan dengan membandingkan dua pendapat yang setara, perkara baru semacam ini tidak tercela. Kata-kata “perkara baru atau bid’ah” arti asalnya bukanlah perbuatan yang tercela. Akan tetapi, bila pengertiannya ialah menyalahi Sunnah dan menuju kepada kesesatan, maka dengan pengertian semacam itu menjadi tercela, sekalipun secara harfiah makna kata tersebut sama sekali tidak tercela, karena Allah pun di dalam firman-Nya menyatakan: “Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang baru dari Tuhan mereka” (QS. Al Anbiyaa’: 2) Juga perkatan ‘Umar radhiallahu ‘anhu: “Bid’ah yang sebaik-baiknya adalah ini”, yaitu shalat tarawih berjama’ah.

Wallaahu a’lam.

2 thoughts on “28 Berpegang Teguh kepada Sunnah Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin

  1. عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلاَمِىْ اَنَّهُ سَمِعَ الْعِرْباَضَ بْنَ سَارِيَّةِ قَالَ وَعَظَناَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتـِىْ وَسُنَّةِ الْخُلَفاَءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْمُهْدِيِّـْينَ (مسند احمد بن حنبل ص 16519 )
    Dari Abd Rohman bin Amr al-Sulami, Sesungguhnya ia mendengar al-Irbadh bin Sariyah berkata, Rasulullah Saw. menasehati kami, Kalian wajib berpegang teguh pada sunnahku (apa yang aku ajarkan) dan perilaku al-Khulafa’ al-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk). (Musnad Ahmad Bin Hambal, 16519)
    Menurut riwayat Tirmidzi sbb:
    سنن الترمذي ٢٦٠٠: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ
    وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
    قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
    Sunan Tirmidzi 2600: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin al Walid dari Bahir bin Sa’d dari Khalid bin Ma’dan dari Abdurrahman bin Amru as Sulami dari al ‘Irbadh bin Sariyah dia berkata; suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi wejangan kepada kami setelah shalat subuh wejangan yang sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka seorang lelaki berkata; ‘seakan-akan ini merupakan wejangan perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya Rasulullah? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at meskipun terhadap seorang budak habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.” Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih, HR Tirmidzi

    Komentarku ( Mahrus ali ):
    Riwayat Tirmidzi ini lebih lengkap dari pada riwayat Imam Ahmad.Beda lagi dengan riwayat Ibn Majah sbb:
    سنن ابن ماجه ٤٣: حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ بِشْرِ بْنِ مَنْصُورٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ السَّوَّاقُ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ يَقُولُ
    وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذِهِ لَمَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا قَالَ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الْأَنِفِ حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ
    Sunan Ibnu Majah 43: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Bisyr bin Manshur dan Ishaq bin Ibrahim As Sawwaq keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Mu’awiyah bin Shalih dari Dlamrah bin Habib dari Abdurrahman bin ‘Amru As Sulami bahwasanya ia mendengar ‘Irbadl bin Sariyah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi kami satu nasehat yang membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka kami berkata kepada beliau; “Ya Rasulullah, sesungguhnya ini merupakan nasihat perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa. Barangsiapa di antara kalian hidup, maka ia akan melihat banyaknya perselisihan. Maka kalian wajib berpegang teguh dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku, dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjukk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. Hendaklah kalian taat meski kepada seorang budak Habasyi. Orang mukmin itu seperti seekor unta jinak, di mana saja dia diikat dia akan menurutinya.” HR Ibn Majah

    Ada sisi perbedaan redaksi antara riwayat Tirmidzi dan Ibn Mjah sbb:

    Riwayat Tirmidzi :

    بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ
    Setelah salat Shubuh
    فَقَالَ رَجُلٌ
    Seorang lelaki berkata:
    أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ
    Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at
    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ
    maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan.

    Riwayat Ibn Majah sbb:

    فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
    Kami berkata : Wahai Rasulullah

    قَالَ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ
    Aku telah tinggalkan untuk kalian petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa.
    فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الْأَنِفِ حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ
    Orang mukmin itu seperti seekor unta jinak, di mana saja dia dituntun dia akan menurutinya.

    Muhammad al amin berkata:
    هَذِهِ اْلأَحَادِيْثُ يَنْطَبِقُ عَلَيْهَا قولُ الْحافِظِ اِبْنِ عَبْدِ الْبَرِّ فِي التَّمْهِيْدِ ( 10 \ 278 ):« وَلَمْ يُخْرِجِ الْبُخَارِيُّ وَلَا مُسْلِمٌ بْنُ الْحَجَّاجِ مِنْهَا حَديثًا وَاحِدًا . وَحَسْبُكَ بِذَلِكَ ضُعْفًا لَهَا ».‏
    Hadis – hadis ini berlaku kata-kata Hafiz Ibnu Abdul Barr di kitab Tamhid (10 \ 278): «Bukhari dan Muslim bin Al Hajjaj tidak meriwayatkan satu hadis ini. Dan dengan nya cukup hadis tsb untuk dikatakan lemah.

    وَمَنْ نَقَلَ تَقْبَلُ الأُمَّةُ لِهَذَا الْحَديثِ بِالْقَبُولِ فَلَمْ يُصِبْ بِذَلِكَ أيضاً . فَقَدْ نَقَّلْنَا عَنْ أَحَدِ الْمُتَقَدِّمِينَ تَضْعِيفَهُ ، وَهَذَا يَكْفِي لِسُقُوطِهِ .
    Barang siapa yang mengutip bahwa umat telah menerima hadis itu dengan baik, maka tidak benar. Sungguh kami telah mengutip salah satu tokoh terdahulu yang melemahkannya. Ini sudah cukup bahwa hadis tsb jatuh nilainya.

    وَالْحُجَّةُ هُنَا لَيْسَ تَصْوِيتٌ عَلَى صِحَّةِ الْحَديثِ ، بَلْ هُوَ بِالنِّسْبَةِ لِتَوْثِيقِ رِجَالِهِ وَعَدَمِ وُجُودِ النّكارَةِ فِي مَتْنِهِ ، وَإلّا فَلَا يَصِحُّ !
    Argumen di sini bukan untuk memberikan suara pada kesahihan hadis, tetapi lebih dekat dengan menyatakan perawi – perawinya terpercaya dan tidak ada keanehan dalam redaksi hadis ( keganjilan ). Bila tidak demikian , maka hadis di katakan tidak sah.
    فَالْحَديثُ لَيْسَ لَهُ طَرِيقٌ يُعْتَبَرُ بِهَا إلّا عَنْ مَجْهُولَيْنِ ( مُثَنًّى مَجْهُولٍ ) عَنِ العرباض بْنِ سَارِيَةٍ .

    Hadis itu tidak memiliki jalur periwayatan yang bisa di andalkan kecuali dari dua anonim ( perawi yang tak dikenal ) dari Al Irbadh bin Saroyah.

    وَهَذَا الأَمْرُ دِينٌ فَاُنْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِيْنَكُمْ . هَلْ نَأْخُذُهُ عَنْ مَجَاهِيلَ ؟! نَعَمْ بَعْضُ الْمُتَقَدِّمِينَ وَكَثِيرٌ مِنَ الْمُتَأَخِّرِيْنَ يَأْخُذُ عَقِيْدَتَهُ عَنْ مَجَاهِيْلَ وَيُصَحِّحُ مِثْلَ هَذَا الْحَديثِ ، بَلْ مَنْ كَانَ أَضْعَفَ مِنْهُ . أَمَّا أَنْ يَحْتَجَّ بِهِ عَلَينَا فَلَا .
    Ini adalah sebuah agama dan lihatlah dari siapa Anda mengambil agamamu. Apakah kita ambil agama dari perawi yang tak di kenal .
    Ya, beberapa kalangan orang – orang dahulu dan banyak generasi terahir ini mengambil akidah dari perawi – perawi yang belum diketahui dan hadis seperti itu langsung dibenarkan, bahkan menerima yang lebih lemah dari dia. Bila di buat bantah kepada kita, maka tidak bisa.

    وَالْحَديثُ كُلَّه أَتَى مِنْ وُجُوهِ أُخْرَى إلّا قَضِيَّةَ اِتِّبَاعِ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ فَهِي مُنْكَرَةٌ مَرْدُودَةٌ
    Hadis itu seluruhnya datang dari jalur periwayatan lain hanya saja masalah mengikuti sunnah khulafaur rasyidin adalah munkar yang tertolak.

    . وَإِضَافَةُ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ إِلَى التَّشْرِيْعِ السَّمَاوِيِّ أَمْرٌ مُخَالِفٌ لِأُصُولِ الشَّرِيعَةِ . وَاللهُ أَمَرَنَا أَنْ نَرُدَّ الْخِلاَفَ : فَرُّدُوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ . وَلَيْسَ لِلْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ .
    Penambahan khulafaur rasyidin kepada tasyri` samawi adalah masalah yang menentang pokok – pokok sariat. Allah memerintah kita untuk mengembalikan hilap , yakni kembalikan kepada Allah dan rasulNya, bukan kepada Khulafaur rasyidin.

    ثُمَّ مَنْ هُمْ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ ؟ هَلْ أَتَى عَلَيهِمْ نَصٌّ ؟ وَلِمَ لَا إِنَّ كَانَ يَجِبُ عَلَينَا اِتِّبَاعُ سُنَّتِهِمْ ؟
    Lantas siapakah khulafaur rasyidin, apakah ada keterangan dari dalil ? Mengapa tidak, bila kita wajib mengikuti sunnah mereka.
    ! وَهَلْ تَعْلَمُ أَنْ هُنَاكَ خِلاَفًا وَاسِعًا بَيْنَ الْعُلَمَاءِ فِي تَحْدِيدِ مَنْ هُمْ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ ؟
    Apakah Anda tahu bahwa ada ketidaksepakatan yang luas di antara para ilmuwan dalam mendefinisikan khalifah?
    هَلْ يَدْخُلُ فِيهِمْ الْحُسَيْنُِ بْنُ عَلِيِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهَلْ يَدْخُلُ فِيهِمْ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ ؟
    Apakah Anda masukkan Al Hussein bin Ali ra kepada mereka dan apakah yang Umar bin Abdul Aziz dimasukkan pula ?

    وَهَلْ نَتَّبِعُ سُنَّةَ الأخير وَهُوَ تَابِعَي ، وَنذرَ خَيْرَةَ الصّحابَةِ ؟!
    Apakah kita mengikuti sunnah terakhir ini pada hal dia tabiin dan kita tinggalkan para sahabat terbaik?!

    ثُمَّ لماذا لَمْ يُطَبِّقْ الصَّحَابَةُ هَذَا الْحَديثَ بَيْنَهُمْ ؟
    Lalu mengapa para sahabat tidak menerapkan hadis ini di antara mereka
    وَكَمْ مِنْ أَمْرٍ خَالَفَ فِيه بَعْضُ الصَّحَابَةِ مَا وَرَدَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ . وَكَلِمَةُ اِبْنِ عباسِ مَشْهُورَةٌ : تُوشِكُ أَنْ تُنْزَلُ عَلَيكُمْ حِجارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ … أَقُوْلُ قَالِ رَسُولُ اللهِ ( صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّمَ ) وَتَقُولُونَ قَالِ أَبُو بَكَرَ وَعُمَرُ ؟!

    Banyak persoalan dimana sebagian sahabat bertentangan dengan khulafaur rasyidin
    Kata Ibnu Abbas yang terkenal ” : akan turun atasmu batu dari langit … Aku berkata: Rasulullah (saw) bersabda dan Anda mengatakan, Abu Bakar dan Umar?

    ثُمَّ هَذَا اِبْنُ عُمَرَ ( رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ) يُخَالِفُ أَبَا بَكَرَ وَعُمَرَ ( رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ) فِي نَفْسِ الْقَضِيَّةِ ( مُتْعَةِ الْحَجِّ ) وَيُفْتِي بِعَكْسِ مَا جَاءَ عَنْهُمَا !
    Maka ini Ibnu Umar (semoga Allah meridhai mereka), bertentangan dengan Abu Bakar dan Umar (semoga Allah meridhai mereka) dalam kasus yang sama ( haji tamattu` ) Dan Ibnu Umar memberikan fatwa yang bertentangan dengan mereka

    DR Muhammad Sa`id Hawa berkata:
    أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ ( 4 / 126 )، وَاِبْنُ مَاجَه ( 43 )، واْلآجُرِي فِي الشَّرِيعَةِ ص47 ، وَالطَّبْرَانِي فِي مُسْنَدِ الشَّامِيِّينَ ( 619 )، وَأَبُوعَوَانَةَ فِي الْمُسْتَخْرَجِ عَلَى مُسْلِمٍ ( 1 / 36 )، والحاكمُ ( 1 / 96 )، مِنْ طُرُقٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَهْدِيٍّ وَغَيْرِه ، عَنْ معاوية بْنِ صَالِحِ ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبيبٍ .
    Diriwayatkan oleh Ahmad (4/126), Ibnu Majah (43), dan Aajurri dalam kitab Syariah hal 47 dan Tabrani dalam Musnad Syamiyin (619), dan Abuawana di al mustahraj ala Muslim (1/36), dan Al Hakim (1/96), dari beberapa jalur dari Abdul Rahman Mehdi dan lain-lain, dari Muawiyah, dari Dhamra bin Habib.

    ب ‌ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ ( 4 / 126 )، وَالدَّارِمِي ( 96 )، وَالتِّرْمِذِي ( 2676 )، وَالطَّبْرَانِي فِي مُسْنَدِ الشَّامِيِّينَ ( 617 )، وَأَبُو ِ عَوَانَةَ فِي مُسْتَخْرَجِهِ عَلَى مُسْلِمٍ ( 1 / 35 )، وَاِبْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِي جَامِعِ بَيَانِ الْعِلْمِ ( 2 / 181 )،
    B Riwayat Ahmad (4/126), dan Darimi (96), dan al-Tirmidzi (2676), dan Tabrani dalam Musnad Al Syamiyin (617), dan Abu Awana dlm kitab mustakhraj ala muslim (1/35), dan Ibnu Abdil Barr dlm kitab jami i bayan al ilm (2 / 181),
    وَالطَّحَاوِي فِي الْمُشْكِلِ ( 2 / 69 )، مُخْتَصَرًا ، وَالْحَاكِمُ ( 1 / 95_96 )، وَأَبُو نُعَيْمٍ فِي الْحِليَةِ ( 5 / 220 )، وَاِبْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِي جَامِعِ بَيَانِ الْعِلْمِ ( 2 / 182 )، وَاْلبَغَوِي فِي شَرْحِ السُّنَّةِ ( 102 )، وَفِي تَفْسِيرِهِ ( 2 / 145 ). مِنْ طُرُقٍ
    dan Tahhaawi dalam kitab Musk,il (2/69), secara singkat, dan Hakim (1 / 95_96), dan Abu Nuaim di al hilyah (5/220), Ibnu Abdil Barr di Jami` bayanil ilmi (2/182),
    Baghawi dalam Syarhis sunnah (102 ), dan dalam Tafsir-nya (2/145).dari berbagai jalur periwayatan.
    وَأَخْرَجَهُ أَحْمَدُ ( 4 / 126 )، وَاِبْنُ أَبِي عَاصِمٍ فِي السُّنَّةِ ( رَقْمُ 32 )، وَأَبُو دَاوُدَ ( 4607 )، وَالآجُرِي فِي الشَّرِيعَةِ ص ( 46 )،

    Di riwayatkan juga oleh Ahmad (4/126), Ibnu Abi Asim dalam kitab sunnah (No. 32), dan Abu Dawud (4607), dan Aajurri dalam kitab Syariat (46),
    وَاِبْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ رَقْمُ ( 5 ) وَتَمامٌ فِي فَوَائِدِهِ ( 355 )، وَأَبُو نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ ( 10 / 115 )، وَاِبْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِي جَامِعِ بَيَانِ الْعِلْمِ ( 2 / 182 )،
    dan Ibnu Haban dalam kitab sahihnya (5) dan Tamam dalam kitab fawaidnya (355), dan Abu Nuaim di kitab al Hilyah (10/115), Ibnu Abdil Barr di Jami` bayanil ilmi (2/182),
    وَالْحاكِمُ ( 1 / 97 ) وَاِبْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِي التَّمْهِيْدِ ( 21 / 279 ). مِنْ طُرُقٍ عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ .
    وَأَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَه ( 44 ) عَنْ يَحْيَى بْنِ حَكِيمٍ ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنِ الصَّبَّاحِ الْمَسْمَعِيِ .
    Dan Hakim (1/97) dan Ibnu Abdil Barr dalam kitab Tamhid (21/279). Dari beberapa jalur dari Walid bin Muslim.
    Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (44) dari Yahya bin Hakim, katanya Bercerita kepada kami Abdul Malik bin Shobbah al mas`ma`i
    وَأَخْرَجَهُ أَبُو ِ عَوَانَةَ فِي مُسْتَخْرَجِهِ عَلَى مُسْلِمٍ ( 1 / 35 )، وَاِبْنُ الْبُخَارِيِّ فِي مَشَيَخَتِهِ ( 1 / 136 ), عَنْ عِيْسَى بْنِ يُوْنُسَ .
    Dan diriwayatkan oleh Abu Awana dalam kitab Mastakhroj ala muslim (1/35), dan Ibn Al-Bukhari dalam Massa yakhotihi (1/136), dari Isa bin Yunus.

    أَرُبُعَتُهُمْ ( أَبُو عَاصِمٍ وَالْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ وَعَبْدُ الْمَلِكِ وَعِيْسَى ) عَنْ ثَوْرٍ بْنِ يَزِيدَ

    Semua empat itu (Abu Asim dan Walid bin Abdul Malik dan Muslim dan Isa) dari Tsor bin Yazid. _
    . _ وَأَخْرَجَهُ التِّرْمِذِي ( 2676 )؛ قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِي بْنُ حُجْرٍ . وَأَخْرَجَهُ اِبْنُ أَبِي عَاصِمَ فِي كِتَابِ السُّنَّةِ ( 27 ) مُخْتَصَرَا ؛ قَالَ : حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عثمان . كِلَاهُمَا : عَمْرُو وَ عَلِي ، قَالاَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةٌ بْنُ الْوَلِيدِ ، عَنْ بُجَيْرٍ بْنِ سَعْدٍ .
    Dan diriwayatkan oleh al-Tirmidzi (2676); berkata: Dikisahkan oleh Ali bin Hajar. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Asim dalam kitab sunnah (27) secara singkat; lalu berkata : Bercerita kepada kami : ‘Amr bin’ Utsman. Keduanya Amr dan Ali, berkata; Bercerita kepada kami Baqiyah Ibn al-Walid, dari Bujair bin Saad.

    وَأَخْرَجَهُ الطَّحَاوِي فِي الْمُشْكِلِ ( 1 / 69 )، وَالْحاكِمُ ( 1 / 96 )، مِنْ طَرِيقَيْنِ عَنِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ ؛ قَالَ : حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدٍ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْحارِثِ .
    ثَلاثَتُهُمْ 😦 ثَوْرٌ بْنُ يَزِيدَ وَبُجَيْرٌ وَمُحَمَّدٌ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ ) عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانِ .
    Dan diriwayatkan oleh Tahawi dalam al Musykil (1/69), dan Hakim (1/96), dari dua rute / jalur dari al-Laits bin Sa’ad, berkata: Bercerita kepadaku Yazid bin AL Had dari Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits.
    Tiga dari mereka: (Thor bin Yazid dan Bujaer dan Muhammad bin Ibrahim) dari Ma’daan bin Khaled.

    ج وَأَخْرَجَهُ الطَّبْرَاني فِي مُسْنَدِ الشَّامِيِّينَ ( 1379 )، مِنْ طَرِيقِ بَقِيَّةَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ سُلَيمٍ ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ جَابِرِ .
    د وَأَخْرَجَهُ الطَّحَاوِي فِي الْمُشْكِلِ ( 2 / 69 ) قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو اُمَيَّةَ ، قَالَ : ثَنَا عَمْرُو بْنُ يُونُسَ اْليَامِي ثِنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍِ ثَِنَا عَوْفٌ اْلأَعْرَابِي .
    C dan diriwayatkan oleh Tabrani dalam Musnad Al Syamyin (1379), dari jalur Baqiyah dari Suleiman Bin Sulaim,lalu berkata : Bercerita kepada kami Yahya bin Jabir
    D Di riwayatkan oleh Tahawi dalam Musykil (2/69) Diriwayatkan Abu Umayyah lalu berkata : Bercerita kepada kami Amr bin Yunus al Yami , Bercerita kepada kami Ikrimah ben Ammar lalu berkata : Bercerita kepada kami Auf Badui.

    أَرْبعَتُهُمْ 😦 ضَمْرَةُ بْنُ حَبِيْبٍ وَخَالِدٌ بْنُ مَعْدَانِ وَ يَحْيَى بْنُ جَابِرِ وَعَوْفٌ اْلأَعْرَابِي ) عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرُو السُّلَّمِيِ قَالَ : يَحْيَى : ثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ ، وَقَالَ الْوَلِيدُ فِي حَديثِهِ : عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَ حُجْرٍ بْنِ حُجْرٍ مُصَرِّحاً بِالسَّمَاعِ .
    Keempat mereka: (Dhamra bin Habib dan Khalid bin Ma’daan dan Yahya bin Jabir dan Auf Badui) dari Abdul-Rahman bin ‘Amr assulami . Yahya berkata: Abd Rahman berkata kepadaku . Alwaleed mengatakan dalam hadisnya dari Abd Al-Rahman dan Hajar bin Hajar dengan menyatakan mendengarkan.

    Jadi hadis ” Perintah mengikuti tuntunan Nabi SAW dan Khulafaur rasyidin ” ternyata tidak dikenal di kalangan sahabat. Tiada sahabat yang berpedoman kepada hadis tsb. Bahkan ummahatul mukminin ( istri – istri Rasulullah SAW ) tidak tahu hadis tsb. Di masa khulafaur rasyidin hanya Irbadh bin Sariyah yang mengetahui hadis tsb, dan tidak di sampaikan kepada sahabat yang lain.Di simpan di dadanya, apakah boleh menyimpan ilmu penting ini. Apakah tidak tergolong ayat ini:
    إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

    Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.[1]

    Jadi dia seorang diri bukan dua orang yang tahu tentang hadis itu.

    Dua orang yang meriwayatkan dari Al Irbadh bin Sariyah adalah Hujr bin Hujr dan Abd Rahman bin Amar assaulami.
    Identitasnya sbb:
    حُجْرٌ بْنُ حُجْرٍ اْلكِلاَعِى الْحِمْصِى
    الطَّبْقَةُ : 3 : مِنَ اْلوُسْطَى مِنَ التَّابِعِيْن
    رَوَى لَهُ : د
    مَرْتَبَتُهُ عِنْدَ ابْنِ حَجَرَ : مَقْبُوْلٌ
    مَرْتَبَتُهُ عِنْدَ الذَّهَبِـي : لَمْ يَذْكُرْهَ
    Hujr bin Hujr Al Kila`I al Himshi :
    Tingkatan: 3 termasuk pertengahan dari Tabiin
    Hanya Abu dawud yang meriwayatkannya ( dari kalangan penyusun kutubut tis`ah )
    Peringkatnta menurut Ibn Hajar: Perawi yang di terima.
    Peringkatnta menurut menurut Dzahabi: Beliau tidak menyebutnya. ( Tidak mengenalnya ). [2]
    ا
    1143
    وَ قَالَ ابْنُ الْقَطَّانِ : لاَ يُعْرَفُ . اهـ
    وَخَالَفَ ابْنُ الْقَطَّانِ فَقَالَ فِي «كِِتَابِهِ» حُجْرٌ بْنُ حُجْرٍ لَاَ يُعْرَفُ ، وَلَا أَعْرِفُ أَحَدًا ذَكَرَهُ [ فَأَمَّا ] عَبْدُ الرَّحْمَن بْنُ عَمْرو السُّلَمِِيّ [ فَالرَّجُلُ ] مَجْهُولُ الْحَال ، والْحَدِيْثُ مِنْ أََجْلِهِ لَاَ يََِصِحُّ .
    Ibn Qatthan menyatakan : Hujr bin Hujr tidak dikenal.
    Ibn Aqattan berbeda pendapat, lalu berkata dalam kitabnya : Hjujr bin Hujr tidak dikenal, dan aku tidak mengetahui seseorang menyebutnya. Adapun Abd Rahman bin Amar assualmi , maka dia tidak diketahui identitasnya. Jadi karena itu, hadis tsb tidak sahih.
    Komentarku ( Mahrus ali ):
    Saya sangat setuju bila di katakan hadis tsb lemah, karena dari sanadnya sudah jelas ada dua perawi yang tidak dikenal.
    Biasanya suatu hadis yang rawinya tidak dikenal, dimasukkan ke dalam hadis palsu. Rawi yang tidak dikenal itu mungkin pendusta, mungkin juga bisa di percaya. Bila bisa dipercaya, masih beruntung. Tapi bila pendusta, maka rusaklah pegangan umat Islam di riwayatkan oleh pendusta.
    Bila hadis itu sahih, maka rakyat kaum muslimin saat itu tidak akan melakukan demo besar – besaran kepada Usman bin Affan. Karena Usman termasuk Khulafaur rasyidin dan sunnahnya bisa diikuti.
    Begitu juga, mereka akan taat langsung kepada Ali bin Abi Thalib karena adanya hadis itu.
    Bila dipikir dengan sungguh, kita tidak menjumpai mana teks pidato Rasulullah SAW yang membikin mata meneteskan air mata itu. Sampai sekarang belum di ketemukan oleh para ulama apalagi saya.
    Kepada kholifah kita diperintahkan taat, sebagaimana ayat:
    يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اَطِيْعُوْا اللهَ وَاَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَاُوْلِى اْلاَمْرِ مِنْكُمْ.

    “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, taatilah Rasul(Nya) dan ulilamri antara kamu”. An-Nisa, 4-59.
    Ali Abdurrahman Al-Hudzaifi dan Syaikh Muhammad Ayyub
    Ada buku karya dua doktor :
    دِرَاسَةٌ نَقْدِيَّةٌ
    فِي حَدِيْثِ اْلعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ
    « وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ …»
    د . مُحَمَّدُ سَعِيدِ حَوَى
    د . عَبْدُ عِيْدِ الرُّعُوْدِ
    جَامِعَةُ مُؤْتَةَ كُلِّيَّةِ الشَّرِيعَةِ
    قِسْمُ أُصُوْلِ الدِّينِ

    Sebuah Studi Kritis
    Dalam sebuah hadis Al Irbadh bin Sariyah
    ( Rasulullah SAW memberikan ceramah kepada kami )
    DR. Mohammed Said Hawa
    DR. Abd Iidur ru`ud
    Universitas MU`tah – Fak Syariah
    Bagian Ushuliddin
    مُلَخَّصُ
    يُثِيرُ حَديثُ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ « وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلْمَ مَوْعِظَةً بَليغَةً ذَرَّفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ …» تَسَاؤُلَاتِ كَثِيرَةٍ مِنْهَا :
    أَيْنَ هِي هَذِهِ الْمَوْعِظَةُ ؟
    Rringkasan
    Hadis Al Irbadh bin Sariyah ra ( Rasulullah SAW memberikan ceramah yang sangat berpengaruh, mata –mata sampai meneteskan air mata ) menimbulkan banyak pertanyaan
    Dimana ceramah ini ? ( Isi ceramah ini dimana )

    ولماذا لَمْ تُحْفَظْ لَنَا مَعَ أَهَمِّيَتِهَا ؟
    وَكَيْفَ يُوصِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلْمَ بِاِتِّبَاعِ السُّنَّةِ ؛ وَلَا يُوصِي بِاِتِّبَاعِ الْقُرْآنِ فِي هَذَا النَّصِّ ؟
    Mengapa isi ceramah itu tidak terpelihara, pada hal sangat penting
    Dan bagaimana Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengikuti sunnah; dan tidak dianjurkan untuk mengikuti Al-Quran dalam teks ini?

    وَمَنْ هُمْ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ ؟
    وَمَا مَعْنًى بِاِتِّبَاعِ سُنَّتِهِمْ ؟
    وَهَلْ كُلُّ فَقَرَاتِ الْحَديثِ ثَابِتَةٌ ؟
    Dan siapa khulafaur rasyidin ? ?
    Apa artinya untuk mengikuti sunnah mereka?
    Apakah semua poin dalam hadis itu sahih?

    وَهَلْ الْحَدِيْثُ نَفْسُه صَحِيحٌ ؟
    تِلْكُمْ تَسَاؤُلَاتٌ نُوَاجِهُهَا مِنْ بَعْضِ طَلَبَةٍ الْعِلْمِ ، وَتَكَلَّمَ حَوْلَهَا بَعْضُ عُلَمَاءِ سَابِقُونَ ، مِمَّا اِقْتَضَى دِرَاسَةً شَامِلَةً لِلْحَدِيْثِ ، مُحَاوَلَةٌ للإِجَابَةِ عَنْهَا .
    Apakah hadis itu sahih?
    Itulah Pertanyaan2 yang kita hadapi dari beberapa siswa , dan berbicara beberapa ilmuwan dulu tentang hal itu ,Ini diperlukan suatu studi komprehensif untuk hadis tsb, sebagai upaya untuk menjawabnya.
    Kalimat saya yang terahir adalah seorang kholifah tidak diperkenankan membuat ajaran baru atau sunnah baru. Ini hal yang perlu di perhatikan , tidak boleh diabaikan. Ajaran itu milik Allah bukan milik Kholifah atau imam Madzhab atau kiyai. Lihat ayat sbb:
    أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ وَلَوْلاَ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم
    Apakah mereka mempunyai sekutu – sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.[3]

    [1] Al Baqarah 174
    [2] Mausuah ruwat al hadis 1143
    [3] Syura 21

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s